Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ar-Rahman menyelenggarakan Wisuda Sarjana Ke-V dan Kuliah Kehormatan pada Rabu, 13 Rabiul Awal 1448 H/26 Agustus 2026, di Aula Kampus Lt. III STIQ Ar-Rahman, Jonggol, Bogor.

Wisuda tahun ini mengusung tema “The Qur’an as the Operating System for Life: Dari Pengetahuan Qur’ani Menuju Kontribusi yang Bermakna.” Momentum tersebut menjadi penanda berakhirnya satu fase perjalanan akademik para wisudawan sekaligus awal pengabdian untuk menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat.

Rangkaian acara berlangsung dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Ke-V STIQ Ar-Rahman. Sambutan disampaikan oleh Dr. Haris Renaldi, M.Pd., Ketua STIQ Ar-Rahman; Iswahyudi Mukhlis, M.A., Ketua Yayasan YPPI; serta Dr. Deden Sumpena, M.Ag., dari Kopertais Wilayah II Jawa Barat.

Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh dan akademisi, di antaranya Prof. Dr. K.H. Didin Hafidhuddin, M.S., Guru Besar Universitas Ibn Khaldun Bogor; Prof. Syamsuddin Arif, M.A., Guru Besar Universitas Darussalam Gontor; serta Dr. Rabi’ Muhammad Muhammad Hafni, dosen Universitas Karabük, Türkiye.

Kuliah Kehormatan: Dari Tadabbur Menuju Transformasi

Salah satu agenda utama dalam rangkaian Wisuda V adalah Kuliah Kehormatan yang disampaikan oleh Dr. (H.C.) K.H. Bachtiar Nasir, Lc., M.M., Pimpinan YPPI AQL dan STIQ Ar-Rahman.

Kuliah Kehormatan yang merupakan kuliah perdana pasca penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa (Dr. H.C.) tersebut mengangkat tema “Al-Qur’an sebagai Operating System Peradaban: Dari Tadabbur Menuju Transformasi.”

Dalam paparannya, K.H. Bachtiar Nasir menyoroti sebuah persoalan penting: tingginya interaksi umat dengan Al-Qur’an belum selalu berbanding lurus dengan transformasi karakter, keputusan hidup, dan tatanan sosial. Ia menilai persoalan yang dihadapi bukan semata keterbatasan akses terhadap Al-Qur’an, melainkan perlunya metode yang mampu menjembatani pemahaman ayat, penggalian hidayah, hingga amal yang terjaga dan membentuk karakter.

Melalui gagasan “Al-Qur’an sebagai Operating System Kehidupan”, K.H. Bachtiar Nasir menawarkan kerangka agar nilai-nilai yang digali secara benar dari Al-Qur’an tidak berhenti menjadi informasi, tetapi berfungsi sebagai sistem kendali dalam mengambil keputusan, melakukan evaluasi diri, dan membangun kebiasaan seorang Muslim.

Ia juga memperkenalkan konsep Predictive Tadabbur, yakni membaca ayat untuk menakar akibat atau kesudahan dari pilihan-pilihan hidup berdasarkan pola sebab-akibat yang telah dijelaskan oleh wahyu, tanpa memasuki wilayah klaim mengetahui perkara gaib.

K.H. Bachtiar Nasir menegaskan bahwa gagasan tersebut masih merupakan kerangka ilmiah yang terbuka untuk ditelaah, dikoreksi, dan diuji secara empiris. Di hadapan para guru besar dan akademisi yang hadir, ia bahkan mengundang telaah ilmiah terhadap metodologi Tadabbur dan Hidayah Al-Qur’an agar dapat terus disempurnakan melalui proses akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Didin Hafidhuddin Dorong Bachtiar Nasir Tempuh Doctor by Research

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. K.H. Didin Hafidhuddin, M.S. memberikan perhatian terhadap perjalanan intelektual dan pengembangan pemikiran K.H. Bachtiar Nasir.

Prof. Didin mendorong K.H. Bachtiar Nasir untuk melanjutkan jenjang akademiknya melalui Program doktor berbasis riset atau Doctor by Research di Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Dorongan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi pengalaman panjang K.H. Bachtiar Nasir dalam dakwah, pengembangan pemikiran, dan gerakan Tadabbur Al-Qur’an untuk dikembangkan lebih lanjut melalui penelitian akademik yang sistematis.

Syamsuddin Arif Usulkan Laboratorium Tadabbur dan Hidayah Al-Qur’an

Sementara itu, Prof. Syamsuddin Arif, M.A. memberikan perhatian khusus terhadap gagasan Tadabbur dan Hidayah Al-Qur’an yang selama ini dikembangkan K.H. Bachtiar Nasir.

Ia mendorong K.H. Bachtiar Nasir untuk mengembangkan gagasan tersebut secara lebih sistematis melalui pembentukan Laboratorium Tadabbur dan Hidayah Al-Qur’an sebagai ruang kajian, penelitian, dan pengembangan metodologi Tadabbur Al-Qur’an.

Prof. Syamsuddin juga menyarankan agar gagasan Tadabbur dan Hidayah Al-Qur’an ke depan dapat dikembangkan menuju program studi, jurusan, konsentrasi, atau bidang keilmuan khusus, sehingga Tadabbur Al-Qur’an tidak hanya berkembang sebagai gerakan dakwah, tetapi juga memiliki bangunan akademik dan tradisi penelitian yang semakin kuat.

Masukan dari para guru besar tersebut menjadi bagian penting dalam Kuliah Kehormatan, sekaligus memperlihatkan terbukanya ruang pengembangan Tadabbur dan Hidayah Al-Qur’an dari gerakan pemahaman dan pengamalan menuju kajian yang semakin sistematis dan akademis.

Pesan bagi Wisudawan

Pada bagian akhir Kuliah Kehormatan, K.H. Bachtiar Nasir menyampaikan pesan khusus kepada para wisudawan. Ia mengingatkan bahwa ijazah menjadi bukti telah menempuh proses belajar, tetapi perubahan diri merupakan ukuran yang lebih jauh dari sekadar pencapaian akademik.

Ia mendorong para lulusan untuk memperpendek jarak antara membaca Al-Qur’an dan berubah karena Al-Qur’an, dengan menurunkan pemahaman terhadap ayat menjadi amal nyata yang terjaga dalam kehidupan.

Penyelenggaraan Wisuda Sarjana Ke-V dan Kuliah Kehormatan ini sekaligus meneguhkan semangat STIQ Ar-Rahman sebagai Kampus Tadabbur Qur’an. Para lulusan diharapkan tidak berhenti pada pencapaian gelar, tetapi melanjutkan perjalanan ilmu menuju pengabdian dan kontribusi nyata bagi umat.

Wisuda bukanlah akhir perjalanan. Ia menjadi awal dari amanah yang lebih besar: membawa Al-Qur’an dari pengetahuan menuju hidayah, dari tadabbur menuju transformasi, dan dari ilmu menuju kontribusi yang bermakna bagi peradaban.